Hujan deras telah mengguyur seluruh tubuhku dan yang kulakukan saat itu hanyalah duduk, diam, dan menangis. Ku sudah bosan dengan semua ini, penyakit yang ku derita tak pernah kunjung mambaik malah makin memburuk. Penyakit yang tak dapat disembuhkan kecuali dengan pembalasan. Pembalasan dendamku atas sakit yang ku derita bertahun – tahun ini. Namun itu juga tak mungkin ku lakukan, di atas cinta ku kepada dirinya.
Meski awalnya membuatku bahagia, namun ini semua berakhir dengan kesedihan. Kini aku merasa hidupku tiada artinya lagi. Cinta yang ku berikan tak dibalas oleh dirinya. Hanya sedih dan sakit lah yang ia berikan padaku.
Semua ini berawal dari aku mencintai seseorang lelaki bernama Ray. Dia adalah lelaki pertama yang mambuatku jatuh hati dan memberikan sebuah makna cinta untukku. Dengannya, aku merasa telah menemukan pelengkap kebahagian hidupku di dunia ini. Selama 8 bulan aku mengenalnya dan itu adalah suatu hal yang takkan pernah kulupakan. Akan tetapi, kebahagian itu mati ditelan sepi. Telepon, sms, surat yang ku beri tak pernah dijawab dan dibalasnya. Pertama itu semua ku anggap biasa, mungkin ada suatu hal yang terjadi dengannya. Tapi tidak untuk yang kedua, dia telah membuatku benar – benar kesal. Aku tak dihiraukannya lagi, dia tak menganggap bahwa aku ini kekasihnya yang juga butuh perhatiannya dan saat itu juga aku memutuskan untuk berpisah dengannya.
Tepat 6 bulan kita berhubungan lalu berakhir. aku pun bertanya – tanya pada diriku sendiri. Apa salah ku? Mengapa ku diperlakukan seperti ini? Apa yang membuat dirimu seperti ini padaku? Dan masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang mengitari pintu hatiku.
Usai itu, ku ingin lalui semua hal yang telah berlalu dan arungi hidupku dalam lembaran baru. Dengan senyuman, keceriaan, dan ketabahan.
Selama 3 bulan, untungnya sakit yang ku derita ini sembuh. Namun tak tau kenapa. Tiba – tiba ada seseorang yang membuatku teringat padanya. Seseorang dimana, yang telah membuat hatiku memanggil – manggil dirinya. Ya Tuhan………..rasanya aku ini telah menggali susahku kembali yang telah kukubur lalu – lalu.
Dengan berani kucoba menguhungi Ray. Perlahan – lahan kutekan tombol Hp-ku. Ku coba untuk menahan rasa kegelisahan di hatiku.
”Halo,,,Assalamualaikum!!!” terdengar suaranya yang mendamaikan hati. Aku pun langsung membalas salamnya. Dia pun bertanya – tanya.
” ini siapa yah….” tanyanya padaku dengan nada pelan seperti orang merintih kesakitan.
” aku Danti, apa kabar Ray, bagaimana keadaanmu?” balasku padanya. Mendengar suaranya, aku dihinggapi rasa bersalah. Tapi, apakah aku patut menyesal atas semua yang telah aku lakukan padanya. Tidak mungkin, dia telah membuatku sakit hati. Buat apa aku menyesali semua ini.
Ray dan aku hanya terdiam. Apa yang harus kubicarakan. Kita sudah 3 bulan putus hubungan dan dari putus hubungan itu kami tak saling kontak satu sama lain.
Ku coba mulai membuka pembicaraan, di saat ku ingin berkata. Dia langsung berkata,
” Ada apa lagi, apa yang kamu mau dari aku. Kamu mau bikin aku sakit hati lagi. Apa kamu kurang puas bikin aku menderita. Apa sih yang kamu mau. Kamu mau aku mati. Jika itu yang kamu mau, tenang aja mungkin sebentar lagi aku akan mati. Asal kamu tau, sebenarnya saat kamu ninggalin aku. Aku butuh kamu. Aku butuh teman untuk mengadu kesedihanku. Aku butuh ruang untuk bersandar dimana aku sedang dalam masalah. Mungkin, kamu nggak tau kalau aku sedang bermain dengan hidup dan mati. Tapi, apakah kamu pernah mengerti kalau aku sebenarnya masih mencintaimu.”
Itu kata - kataku. Kenapa dia yang mengucapkannya padaku. Ya Tuhan,,,,,,,,,maafkan lah hambamu ini yang telah melukai perasaan orang yang dicintainya.
Dengan tegar aku hanya bisa menjawab semua itu dengan kata ” maaf,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,” . Dengan segera, aku menutup telponku.
Danti, Danti apa yang telah kau perbuat. Kau yang membuat sakitmu sendiri, kau yang telah menggali lubang susahmu sendiri, kau yang membuat dirimu terluka sendiri.
Dengan langkah lunglai, aku masuk kekamar dan berbaring untuk menenangkan diriku yang sedang kacau balau.
Sudah yang berlalu biarkan lalu dan aku sudah berjanji untuk mengubur dalam - dalam itu semua dan membuka lembaran baru.
5 bulan berlalu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Wah senangnya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,aku dapat melalui yang sudah lalu dan ku bersyukur karena ku dapat melaui itu semua dengan tabah, tanpa hal – hal yang tidak boleh ku lakukan.
Hari ini adalah hari kemenangan umat islam , dan di hari ini pula aku telah mendapatkan suatu cahaya terang dan bahagia yang membuat merasa seperti baru dilahirkan kembali. Aku bersama keluargaku berniat untuk mudik menuju Yogyakarta. Sampainya disana, kami disambut dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Aku pun juga merasa senang dapat bertemu dengan sanak saudaraku. Ada suatu hal yang membuatku untuk menghubungi seseorang, siapa dia. Terlintas sebuah nama yang patut untuk aku mintai maaf. Ray, dia orangnya.
Dengan ceria ku menghubunginya dan juga tak sabar ku ingin berbincang dengan dirinya.
Tut,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Tut,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Tut,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Tut,,,,,,,” hallo, Assalamualaikum. Bisa bicara dengan Ray?’” tanyaku pada seorang gadis yang menjawab telpon dariku.
” Tunggu sebentar yah” jawab nya
Selama 5 menit aku menunggu Ray untuk dipanggilkan, cukup lama sih. Tapi tak apa lah.
”Hallo, Assalamualaikum, ini siapa? Maaf yah nunggu lama, soalnya Ray habis buang air kecil sih. Hehehehe….!” kata – katanya masih seperti yang dulu , lucu.
” Waalaikum salam. Ray, ini aku Danti. Apa kabar, Ray? Lebaran mau kemana nih, nggak ada rencana mudik gitu.” tanyaku pada Ray.
” ini Danti!!!! Ya ampun, akhirnya Ray bisa ngomong sama Danti. Kabarnya Ray baik – baik ajah. Danti Gimana Kabarnya? ” tanya Ray padaku dengan nada bahagia.
Tidak terasa waktu yang kami butuhkan untuk mengobrol cukup lama, yaitu sekitar 48 menit. Tapi bagiku sangat puas karena aku akhirnya dapat berbicara dengan Ray.
Pada waktu malam hari, tanpa terbayangkan Ray menelefon ku.
” Met malem, Danti !” Sapa Ray
”Ini Ray yah,,,. Ada apa nih! ” Balasku
” nggak ada apa – apa. Cuma pengen telfon Danti ajah. Nggak apa – apa kan”
” nggak apa – apa kok”
”Danti, Ray mau ngomong sama Danti.”
Rasanya jantung ini berdetak cepat, hati jadinya nggak karuan. Ada apa yah……
”Danti, tadi di jalan aku ketemu sama Ray terus di titip pesan, Katanya Ray minta maaf . Dia bilang, selama ini Ray udah egois sama Danti. Ray udah bikin Danti sakit hati dan juga Ray sering bikin Danti khawatir. Danti, mau maafin Si Ray kan. Oh,,,,ya Danti nggak malam mingguan gitu ama cowoknya Danti.” dengan nada merendah dia mengakhiri omongannya.
” Nggak, Danti nggak malam mingguan. Oh,,,Si Ray. Gimana yah,,,,,jujur sebenarnya Danti masih sakit hati sama Si Ray. Tapi, mau gimana lagi karena saking besarnya cinta Danti ke dia. Jadi, udah Danti maafin kok”
”Hmmmm,,,,,,,,,Danti bisa nggak keluar rumah!?!” tanyanya
Tak tau mengapa, Ray menyuruhku keluar rumah. Aku pun bergegas keluar rumah dan menuju gerbang rumah saudaraku.
Telfonku dengan masih tersambung…
” halo, Ray!! Ima sudah diluar nih dekat gerbang”
” Danti noleh ke kiri deh”
Dengan pasrahnya, aku mengiyakan semua suruhan Ray.
”Danti, udah nengok sebelah kiri” suruhnya dengan nada agak gagap
” udah!!! Sawah yang ada,,,,,. Udah deh jangan becanda”
” Danti masuk ke sawah itu donk!” suruh Ray. Agaknya aku mulai aneh dengan suruhan Ray padaku.
”Gila aja, malem – malem gini dan ngapain juga aku main ke sawah aku nggak mau. Kamu ini aneh – aneh aja deh ray!!!” dengan tegas aku menolak suruhan Ray.
”Danti, kok jahat ya sekarang sama Ray. Danti tenang aja akan ada Ray. Jadi, Danti nggak usah takut” bujuknya
” Eh, kamu kan ada di Makassar. Gimana mau nemenin. Ya, kalau Ray di jogja nggak masalah. Lagian, Ray juga nggak tau rumah saudaranya Danti”
”Ayo, donk mau yah”
Dengan terpaksa dan sangsi, aku menuruti suruhan Ray dengan otak yang kosong. Dengan langkah pelan, ku berjalan melewati pematang sawah. Yang kurasakan dingin dan gelap. Buluh kuduku juga merinding.
ArrRrrrGGgHhhh,,,,,,,,,,,,aku berteriak dengan kencanngnya. Ada seseorang yang memelukku dari belakang. Mulutku pun di bungkam agar jeritanku tidak didengar. Lalu, badanku dibalikkan oleh orang itu.
Saat ku berbalik dan yang kulihat seseorang pria berbaju putih dan orang itu adalah ”RAY”. Apakah ini benar dia. Kami pun berpandang – pandangan dan Ray lalu memelukku dengan eratnya. Serta ia membisikkan I LOVE YOU ditelingaku. Hatiku rasanya melayang ke langit tingkat tujuh.
Pikiranku berhenti sejenak, dari mana dia tau alamat saudaraku di jogja.
”Oh,,,ya, Ray tau dari mana alamat saudaranya Danti di Jogja?” tanyaku dengan serius padanya.
”dari siapa yah,,,tuh dari belakangnya Danti!” sambil tersenyum dia memberitahukan siapa yang memberinya alamat saudaraku di Jogja.
Saat ku membalikkan badan, ternyata yang ku lihat adalah seorang wanita cantik, berambut sebahu, putih, serta anggun. Dalam hatiku muncul pertanyaan ”siapakah dia”. Aku pun tersenyum padanya dan dia juga membalas senyumku.
Sambil bersalaman, aku menanyakan siapa dia kepada Ray sambil berbisik.
”Ray, itu siapa?” tanyaku sambil berbisik dan tetap tersenyum
”itu Mama, emangnya kenapa?”
”MAMA!!! Tau dari mana mamanya Ray alamatnya saudaranya Danti!” dengan terkejut aku membalas pertanyaan Ray.
Ray hanya tersenyum dan mamanya juga hanya tersenyum manis dan sambil mengelus – ngelus rambutku. Aku diajak ke mobil Mazda Sporty berwarna merah, miliknya.
Mau diajak kemana aku ini. Aku juga belum izin. Bisa – bisa aku dibunuh oleh orang tuaku. Aku pun tergerusu mencoba untuk menolak ajakan Ray, tapi mamanya mencoba menenangkanku.
” udah tenang aja, nanti biar tante yang bilang sama Orang tuanya Danti” ujar mamanya Ray.
What!!!!!!! Bilang sama Orang tuaku. Mamanya Ray kan nggak kenal sama orang tuaku. Bisa – bisa mamanya Ray terkena sengatan dari orang tuaku.
2 jam kemudian,,,,,,,,,,,,,,
Aku terbangun dari tidur. Tak dasar jika aku tertidur di dalam mobil Ray. Saat ku terbangun ku dapatkan, aku terbaring di sebuah bukit yang pemandangannya indah sekali.
Ray pun tiba – tiba duduk disampingku. Ada apa ini mengapa perasaanku tidak enak begini. Ada apa ini.
Ray memegang tanganku. Aku langsung merasa deg – degan. Namun, tangan Ray terasa dingin.
”Danti, maafin Ray yah,,,,,,,selama ini Ray selalu bikin Danti sakit hati” ungkapnya dengan nada pelan. Ku lihat ia meneteskan air matanya dan jatuh di tanganku.
”Aku udah maafin Ray kok! Ray, jangan pernah tinggalin Danti, ya. Danti nggak mau kehilangan Ray lagi.” Kataku sambil kupeluk tubuh Ray.
Ray tidak menjawab, namun ia hanya memberikan senyumannya padaku. Itu pun sudah membuat senang dan bahagia. Tak terasa ku merasa mengantuk berada di dalam pelukan Ray, yang dia bersandar di bawah pohon. Lalu Ray mengatakan suatu hal padaku.
” Danti, Ray berjanji akan selalu menjaga dan ada di samping Danti. Meski kita jauh, Danti akan merasakan kalau Ray dekat dengan Danti.”
Dari kata – kata itu, aku merasakan suatu kehangatan dan kebahagiaan yang tidak pernah ku dapatkan sebelumnya.
Esok pagi,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Saat ku buka mata, aku masih berada di perbukitan itu. Tetapi ada yang aneh, Ray tidak ada. Apakah dia pulang. Kenapa dia tidak berpamitan padaku. Apakah dia sedang berjalan – jalan. Tapi, kenapa dia tidak membangunkan aku dan juga apakah dia setega itu meninggalkan seorang gadis di sebuah bukit yang sepi. Disamping terdapat secarik kertas yang bertuliskan ” Maafkan aku, jika aku harus pergi meninggalkanmu”
SIALAN!!!! Aku telah tertipu oleh kata – kata manisnya. Katanya akan menemaniku dan menjagaku. Tapi apa, dia meninggalkan aku sendiri di sini. Sungguh bodohnya aku telah mendengarkan kata – kata busuknya. Detik itu juga cintaku padanya musnah.
Aku pun beranjak untuk pulang kerumah dengan mengendarai ojek. Sesampainya dirumah saudaraku, mamaku langsung mendatangiku. Masih dengan perasaan kesal, aku menghindar dari mamaku. Tapi terlintas, aku melihat mamaku memakai baju putih – putih serta membawa sebuah saputangan putih dan Sepertinya aku mengenal sapu tangan itu. Sudahlah milik siapa sapu tangan itu aku tidak peduli. Aku ingin sendiri dan menikmati hidup. Aku tak ingin ada orang yang mengusik perasaan dan pikiranku dengan sebuah cinta.
Sudah cukup sakit hati yang kuderita dan aku tak mau jatuh cinta lagi.
3 tahun kemudian,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Akhirnya aku lulus SMA dan aku telah berencana untuk masuk di Fakultas Hukum di salah satu Universitas di Jakarta. Aku langsung bergegas untuk pulang ke rumah dan siap – siap untuk berangkat ke Jakarta.
Tibanya dirumah, aku langsung berganti baju dan bersiap – siap untuk berangkat ke jakarta besok pagi. Dari mulai meja belajar aku bersihkan, tempat tidur, lalu lemari. Saat ku merapikan bajuku, ada sebuah kotak terjatuh. Ku ambil kotak itu dan ku buka. Di dalamnya terdapat surat dan sapu tangan berwarna putih. Karena penasaran ku buka surat itu dan terdapat tulisan yang berkata;
Dear Danti,
Danti, maafin Ray, jika Ray telah menyakiti perasaan Danti selama ini!
Selama ini, Ray melihat Danti begitu Mencintai Ray dan begitu juga pula dengan Danti. Apakah Danti melihat Ray begitu Mencintai Danti?
Danti, terima kasih,,,, atas apa yang Danti berikan pada Ray. Walau awalnya kita berpisah lalu kembali. Ray merasa bahagia sekali.
Bagi Ray, Danti adalah embun yang membasahi hati Ray yang kering,
Sebuah Bunga yang mengharumi suasana di sekitar Ray,
Tulang rusuk yang Ray miliki dan hilang entah kemana, dan ternyata tulang rusuk Ray adalah Danti
Dan yang terakhir ,,,,,,,,,,,,,,
bagi Ray, Danti adalah Wanita yang pertama dan terakhir yang Ray cintai.
Andai waktu, dapat terulang. Ray ingin megatakan sekali lagi jika Ray Sayang sama Danti.
My love Won’t dead and will life in My heart forever. My love will save to My dead room.
Dari Ray
aku hanya bisa membasi pipi ku dengan air mata, hati ku kalut, apakah ini sesungguhnya atau permainan dan seterusnya
Biarkanlah aku sendiri…………
Ima
Cerita ini aku sampein buat Mas Echa^_^
Komentar Terakhir